Langsung ke konten utama

MASJID CUT MEUTIA


Nama Cut Meutia diambil dari nama jalan dimana masjid ini berada yaitu jl. Taman Cut Meutia No. 1 Menteng Jakarta Pusat. Sebelum menjadi tempat ibadah bagi umat Islam, bangunan masjid itu adalah gedung milik pemerintahan kolonial Belanda.


Gedung ini pernah menjadi kantor perusahaan pengembang milik Belanda. Dulu, perusahaan itu bekerja untuk membangun kawasan Gondangdia.

Bangunan itu juga pernah difungsikan sebagai kantor pos milik Belanda, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, dan Kantor Angkatan Laut Jepang.

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, masjid yang bisa menampung sekitar 3.000 anggota jemaah ini pernah menjadi kantor urusan perumahan, kantor urusan agama, hingga Sekretariat Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Barulah, pada masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, gedung itu dihibahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebelum resmi dijadikan masjid, gedung ini hampir diruntuhkan karena dianggap tidak berfungsi.

Atas usulan Jenderal AH Nasution, gedung ini tidak jadi dirobohkan, tetapi dijadikan tempat ibadah bagi semua pemeluk agama. Namun, karena umat islam banyak yang beribadah di sini, gedung diusulkan sebagai masjid.

Pada 1987, Surat Keputusan Gubernur Nomor 5184/1987 menandai peresmian gedung itu sebagai Masjid Cut Meutia. Masjid itu pun dijadikan cagar budaya sehingga bentuk bangunannya sengaja dipertahankan.

Hampir semua bagian gedung dibiarkan seperti aslinya. Di masjid ini, arah kiblat tidak lurus, tetapi agak menyerong ke kanan. Itu karena bangunan masjid memang tidak searah kiblat.
Sumber : Nationalgeographic
Foto-foto doc. pribadi Feb 2017









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Gedung AJBS (Bekas Pabrik Bir Ngagel)

Pada tahun 1929 dibentuk dan dibangun biro Hindia Belanda oleh sekelompok pengusaha berkebangsaan Belanda tetapi lebih banyak kelompok pengusaha dari Belgia dengan nama COBRA. Mereka menetapkan nama NEDERLANDSCH INDISCHE BIER BROWERIJ N V. Tahun 1931 produksi mulai berjalan dan dipasarkan. Tahun 1937 karena sesuatu hal internal, maka perusahaan ini pailit. Dengan pailitnya perusahaan datang jaringan bir belanda yaitu Heineken’s dan membeli pabrik ini. Heineken merubah nama perusahaan dengan “ HEINEKEN’S NEDERLANDSCH INDISCHE BIER BROUWERIJ MAATSCHAPIJ” yang memproduksi bir merk Heineken, Java Bier dan Java Bonker. Tahun 1942 selama kependudukan Jepang, pabrik bir di Surabaya dikuasai oleh Jepang dan namanya diubah ala Jepang yaitu “NIPPON BITJIU KAISAI” Dalam waktu singkat Jepang tidak memberikan perubahan pada produk bir karena konsentrasinya pada militer, awal 1944 ada rencana untuk memberikan sentuhan rasa sochu pada produk ini, akan tetapi belum sempat memberi sentuhan pada t...

Gereja Merah Probolinggo

Bernama resmi Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, Probolinggo. Atau lebih diakrabi sebagai Gereja Merah ini, terletak di Jalan Suroyo 32 Probolinggo. Disebut Gereja Merah karena keseluruhan banguan cagar budaya ini didominasi warna merah menyala. Tapi rupanya, saat awal dibangun, warna cat yang dipakai untuk melapisi bangunan gereja  ini tidaklah merah, melainkan putih. Berdasarkan keterangan, karena letak geografis Kota Probolinggo dekat dengan pantai, hal ini mempercepat korosi metal oleh udara pantai yang lembab. Ketika itu plumbir digunakan untuk melindungi bangunan dari korosi. Agar senantiasa tampak indah, maka warna merah inilah yang dipilih untuk melapisinya. Gereja Merah dibangun pada masa kependudukan VOC di Indonesia, tahun 1862. Hal ini dapat dilihat dari tera yang ada di anak tangga pertama saat memasuki bangunan gereja: Gebound Anno 1862. Gereja bergaya gothic yang keseluruhan struktur bangunannya terbuat baja ini, dibangun...

Sebuah Monument Berbahasa Inggris di Bekas Benteng Probolinggo

Dulunya monument yang teronggok di sekitaran bekas benteng Probolinggo ini kami kira kerkhof, ternyata sebuah momument yang menuliskan peristiwa tahun 1813 dan berbahasa inggris. Kurang lebih tulisannya : "Sacred To the memory of Lieut. Col Jamesfraser and Cap. Jamempherson Or his majestys 18th highland regiment Who were barbarously murdered by a band of insugents Near Probolingo on the night of the 18t Of May 1813 This monument is erected over the remains by their brother Officers as a mark of the.......steem in which They held their worth And Virtues"